Minggu, 04 November 2018

Tugas Mata Kuliah Peternakan Lahan Kering

SUMBER DAYA PETERNAKAN DI LAHAN KERING


Sumberdaya Peternakan di Lahan Kering


Daerah-daerah lahan kering di Indonesia sangat berbeda dengan daerah-daerah dataran rendahnya. Daerah-daerah tersebut berbukit-bukit atau bergunung, dengan lereng-lereng yang miring dan tanah tandus. Walaupun di daerah-daerah tersebut yang paling sering dijumpai adalah pertanian lahan kering, namun di daerah-daerah yang topografinya mmungkinkan diterapkannya irigasi dapat pula dijumpai daerah persawahan.
Delapan puluh persen dari total luas wilayah Indonesia merupakan lahan kering dan porsi ini tidak sebesar di  NTT yang mencapai 90%. Karena keanekaragaman  topografinya dan tanahnya yang tandus, daerah lahan kering dapat mendukung jumlah penduduk yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah dataran rendah yang biasanya lebih subur.

Lahan kering merupakan suatu site yang identik dengan suatu tempat atau lokasi yang termarginalkan. Dengan demikian beberapa faktor pendukung untuk mewujudkan suatu usaha termasuk diantaranya usaha peternakan juga mempunyai sifat yang spesifik. Usaha ternak merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat di lahan kering. Kegiatan ini berkembang karena pada kondisi lahan kering kurang menunjang pengembangan sistem pertanian (tanaman semusim) secara intensif. Manusia sebagai pelaku utama usaha ternak di lahan kering biasanya memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah, dengan kondisi umur yang bervariasi dan tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, Di NTT sebagai salah satu lokasi yang didominasi lahan kering dari keseluruhan penduduk berusia di atas 10 tahun sekitar 68% hanya berpendidikan paling tinggi tamat SD.

Peternak lahan kering umumnya memelihara ternak sesuai dengan kebiasaannya dan tujuan yang diharapkan. Jenis-jenis ternak yang dipelihara bisa sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba atau golongan unggas. Penentuan jenis ternak yang dipelihara tergantung dari tujuan pemeliharaan dan pertimbangan sosial budaya. Pada daerah yang mayoritas penduduknya beragama nasrani biasanya ternak babi menjadi pilihan utama. Selain itu pertimbangan adat juga mempengaruhi penduduk dalam menentukan komoditi ternak yang diusahakan. Untuk masyarakat yang tinggal di Pulau Sumba atau di daerah Toraja pengusahaan ternak kerbau biasanya menjadi pertimbangan tersendiri. Sebagai masyarakat yang termarginalkan, pemilikan atau pemeliharaan ternak umumnya juga kurang memperhatikan mutu ternak dan tingkat produksinya. Berdasarkan beberapa penelitian, ternak-ternak sapi yang ada di tingkat masyarakat kebanyakan memiliki ukuran dibawah standard dengan pertumbuhan yang rendah dan tingkat kematian anak relatif tinggi.

Pemeliharaan ternak umumnya dilakukan pada berbagai jenis lahan sesuai dengan ketersediaan yang ada pada lokasi setempat. Pada daerah lahan kering masih banyak lahan yang sifatnya komunal. Beberapa lahan yang status kepemilikannya jelas biasanya dikuasai karena faktor keturunan dan luasnya cenderung semakin terbatas.atau menyempit. Oleh karenanya beberapa lahan yang dijadikan pilihan untuk mendukung usaha ternak diantaranya adalah padang pangonan, hutan, lahan tadah hujan yang lagi tidak diusahakan, lahan perkebunan, lahan tegalan/ladang, dan lahan pekarangan. Lahan-lahan dimaksud dibatasi dengan kondisi berbatu, solum tipis, mudah erosi dan tingkat kesuburan relatif rendah, ditandai dengan  kandungan N total dalam kategori rendah.

Selain faktor kesuburan, pada wilayah yang didominasi oleh lahan kering pemenuhan kebutuhan air untuk tanaman tergantung sepenuhnya kepada air hujan dan tidak pernah tergenang air sepanjang tahun dan berakibat pada terbatasnya produksi yang akan dihasilkan termasuk didalamnya produksi hijauan makanan ternak. Oleh karenanya penyediaan makanan ternak berlambung ganda selalu bermasalah pada saat puncak kemarau. Selain hal tersebut seiring dengan perkembangan penduduk, pemukiman dan usaha tani maka ketersediaan lahan untuk tanaman makanan ternak  juga menjadi semakin berkurang. Pola distribusi ketersediaan hijauan sepanjang tahun secara umum adalah melimpah pada saat penghujan dan mengalami defisit pada saat kemarau. Gambaran tersebut diperoleh dengan menghubungkan antara kebutuhan ternak dengan produksi hijauan yang dihasilkan. Untuk kondisi di Nusa Tenggara Timur potensi produksi padang rumput alam  pada saat penghujan adalah  2 ton BK/Ha dengan kandungan protein 8%, sebaliknya pada saat kemarau produksi turun menjadi 0,5 ton BK/Ha dengan kandungan protein kasar kurang dari 4%.


Sumberdaya peternakan lahan kering berikutnya yang tidak kalah penting adalah modal. Kendala dari sesi sosiasl ekonomi pada usahatani di daerah lahan kering meliputi petani subsisten terbatasnya uang tunai, modal yang dimiliki kecil, tidak ada kepastian harga hasil produksi, terbatasnya sarana pemasaran. Kendala tersebut memberikan suatu indikasi bahwa petani di daerah lahan kering berkorelasi positip terhadap rendahnya pendapatan keluarga dan kemiskinan.  Untuk wilayah NTT umumnya pendapatan per kapita  per tahun penduduk sebesar Rp. 4.469.637 lebih rendah dari nasional sebesar Rp. 19.520.207. Situasi demikian mendorong tingginya angka kemiskinan di NTT sebesar 25,69%. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peternak cukup sulit mendapatkan kepercayaan dari pemilik modal. Peternak lahan kering biasanya mengusahakan ternak selain bermodalkan sendiri walau dalam jumlah terbatas juga mengharapkan dari sumber lain baik orang per orang, koperasi, swasta, dinas dan bahkan jasa perbankan bagi yang sudah lebih maju. Dengan pemodalan yang demikian ini maka berpengaruh pada relatif kecilnya skala usaha atau pemilikan ternak yang diusahakan.



Keunggulan dan Kelemahan Sumberdaya Peternakan Di Lahan Kering

Sumberdaya peternakan lahan kering baik manusia, ternak, lahan maupun pakan selalu dihubungkan dengan keterbatasan. Namun bila ditelusuri lebih lanjut selain kekurangan akan tampak pula adanya keunggulan. Baik kekurangan maupun keunggulan masing-masing memiliki alasan tersendiri.

Manusia
Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dalam proses produksi. Sumber tenaga kerja pada usaha peternakan di lahan kering biasanya bersumber dari tenaga kerja keluarga, melibatkan semua anggota keluarga yang ada. Dalam situasi demikian tidak menutup kemungkinan tenaga kerja yang ada tingkatan umur yang sangat beragam. Pada kelompok usia tua disatu sisi mereka telah memiliki pengalaman dalam mengusahakan ternak, namun disisi lain sangat sulit untuk menerima teknologi baru. Sebaliknya pada usia muda atau bahkan usia anak-anak, masalah adopsi teknologi bukan merupakan suatu kendala, permasalahan yang muncul justru rasa memiliki dari kaum muda tidak sebagus pada yang telah berumur tua.  Penduduk yang berusia muda banyak yang berpindah ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan, meninggalkan anak-anak dan orang berusia lanjut. Hal ini mengakibatkan kekurangan tenaga kerja dan berkonsekwensi pada kurangnya perhatian pada ternak menjadi kurang. Sementara itu permasalahan yang muncul apabila tenaga kerja diperankan oleh anak-anak adalah tersitanya waktu bermain dan belajar bagi anak-anak.

Tingkat pendidikan peternak yang rendah biasa diikuti dengan pengetahuan, ketrampilan, motivasi dan kesadaran yang kurang sehingga masih banyak yang menerapkan sistem tradisional dalam membudidayakan ternak. Dalam kondisi demikian rendahnya tingkat pendidikan juga menyebabkan peternak sulit untuk mengadopsi teknologi-teknologi baru dalam kaitan pengembangan usaha ternak. Hal ini disebabkan pengetahuan mereka dalam mengusahakan ternak lebih banyak karena turun temurun, selalu memiliki rasa “eman-eman”, menunggu serta tidak berusaha untuk mencoba hal yang baru. Namun apabila ada suatu kegiatan yang melibatkan orang banyak seperti gotong royong atau sejenisnya, kelompok masyarakat yang berpendidikan rendah mudah digerakkan, sebaliknya pada yang berpendidikan lebih tinggi dengan berbagai alasan sulit mengharapkan keterlibatan mereka.
Yang tidak kala pentingnya dalam pemanfaatan tenaga keluarga dalam usaha ternak adalah peran serta ibu rumah tangga. Dalam masyarakat patriarki (menurut garis ayah) seorang laki-lain besar perannya dalam menentukan setiap langkah termasuk dalam berusaha ternak. Orang laki-laki bisa menjadi pengambil keputusan secara resmi, tetapi kenyataannya bisa juga perempuan yang menentukan apa yang akan dikerjakan. Bahkan beban para ibu dalam mencurahkan waktunya untuk memelihara ternak jauh lebih tinggi dibanding para bapak. Terkadang malah hal-hal yang berkaitan dengan spesifik lokal atau tanaman-tanaman yang adaptif para ibu lebih tahu dibanding kaum laki-laki. Disini nampak bahwa adanya pengakuan terhadap persamaan hak. Peran serta ibu yang terlalu tinggi di sisi lain dapat berpengaruh pada kesehatan ibu dan beresiko pada perkembangan anak apabila dalam rumah tangga tani tersebut terdapat anak balita.

Ternak
Petani yang rasional akan selalu berusaha memanfaatkan sumber daya yang ada pada dirinya guna memaksimumkan pendapatan usahatani/ternaknya. Pengembangan usahatani lahan kering dapat ditanggulangi dengan pola kombinasi antara tanaman pangan dengan ternak. Peran ternak dapat melayani fungsi sebagai tambahan pendapatan, tabungan, kegemaran, membantu  pembiayaan usahatani dan upacara adat. Dalam kondisi demikian, pemeliharaan ternak menjadi tidak fokus, dan dalam satu rumah tangga peternak dapat ditemukan berbagai jenis ternak peliharaan. Di NTT ternak babi merupakan ternak yang paling besar jumlahnya diantara semua ternak yang ada. Babi diusahakan hampir merata di semua daerah dan biasanya merupakan ternak rumah tangga bersama ayam kampung. Pemeliharaan ternak umumnya dilakukan secara sederhana dalam kandang atau dilepas. Lebih dari 50% ternak babi ada di Timor (Kupang), Sumba Barat dan Belu. Selain kedua komoditi ternak tersebut, penduduk NTT juga biasa mengusahakan ternak kuda, kambing, domba dan kerbau serta jenis-jenis unggas lainnya.  Pemilikan ayam biasanya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan mendadak dan cepat agar didapat pendapatan tunai. Posisi ini terkadang diambil alih kelompok ternak kecil lainnya seperti babi dan kambing.

Berbagai jenis ternak yang hidup  pada daerah lahan kering kebanyakan berukuran kecil-kecil dengan tingkat produktivitas yang rendah. Dari sisi pemenuhan kebutuhan pakan, ternak berukuran kecil lebih sedikit membutuhkan pakan dibanding ternak yang lebih besar, sehingga pemeliharaan bisa dilakukan seadanya. Tidak hanya itu, sapi Bali walaupun berukuran kecil ternyata memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dibanding jenis sapi lain. Dari sisi adaptasi, ternak yang berukuran kecil lebih memiliki toleransi terhadap panas lebih baik dibanding yang berukuran besar. Hal ini karena semakin kecil ukuran tubuh maka akan memiliki luas permukaan persatuan berat tubuh lebih besar dibanding dengan yang berukuran besar. Ternak yang berukuran kecil dapat kehilangan panas tubuh persatuan berat badan lebih cepat dibanding dengan ternak berukuran besar. Ternak-ternak yang sudah beradaptasi di daerah lahan kering telah beradaptasi pakan dengan kualitas dan jumlah rendah, suatu sifat yang tercermin dalam tingkat metabolisme yang secara umum lebih rendah daripada sifat-sifat ternak dengan potensi genetik tinggi. Ternak-ternak yang telah beradaptasi di daerah kering juga mampu menggunakan air secara efisien.
Namun sebaliknya dalam hal produksi, dengan ukuran ternak yang relatif kecil maka tidak efisien dalam menghasilkan produk, butuh waktu lama untuk mencapai bobot jual. Pada sapi Bali, walaupun tingkat kesuburannya tinggi, angka kematian anak ternyata juga cukup tinggi sehingga populasi juga sulit berkembang,

Lahan
Lahan dalam usaha ternak berfungsi sebagai tempat penyediaan pakan dan fasilitas kandang.usaha. Lahan pada daerah lahan kering didominasi lahan kritis, berkapur, berbatu dan solum tipis. Selain itu terkadang juga berada di daerah miring, peka erosi dan tidak subur. Sebagai tempat penyediaan pakan, lahan yang biasa dimanfaatkan sebagai sumber pakan adalah padang pangonan, hutan, lahan tadah hujan yang lagi tidak diusahakan, lahan perkebunan, lahan tegalan/ladang, dan lahan pekarangan sehingga banyak alternatif pilihan guna pemenuhan kebutuhan pakan. Namun bila ditelaah lebih mendalam, pemanfaatan lahan sebagai sumber pakan semuanya bergantung pada kemurahan alam tanpa ada campur tangan manusia untuk mengusahakannya. Pemeliharaan semacam ini memiliki kelemahan baik bagi lingkungan seperti degradasi lahan, maupun bagi pemilik ternak, seperti ketergantungan pakan pada musim, rendahnya kualitas pakan, terjadi penurunan berat badan pada musim kemarau, serta rendahnya kesehatan ternak dan produktivitas ternak.
Tanah ditempat miring, peka erosi, berkapur, berbatu dan solum tipis biasanya tidak subur dan berada dalam kategori klas IV s/d VIII. Tanah-tanah pada kelas demikian merupakan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian atau diperlukan biaya yang sangat besar untuk pengelolaannya. Dengan demikian kelas lahan ini lebih sesuai digunakan sebagai sumber penyedia  pakan ternak.

Status lahan di daerah lahan kering, seperti yang telah diungkapkan pada bahasan terdahulu bahwa pada daerah lahan kering masih banyak lahan yang sifatnya komunal. Beberapa lahan yang status kepemilikannya jelas biasanya sejarah penguasaannya karena faktor keturunan dan luasnya cenderung semakin terbatas atau menyempit. Lahan komunal yang ada biasanya dalam bentuk areal padang, hutan maupun lahan tidur. Oleh karenanya pemanfaatan padang tergantung pada siapa saja yang mempunyai ternak dan berapapun jumlahnya tanpa adanya kontribusi apapun pada padang yang ada. Kondisi demikian dapat merupakan sebagai salah satu faktor pendukung tingginya invasi gulma padang. Sebaliknya lahan yang kepemilikannya jelas memungkinkan untuk diusahakan suatu kebun pakan dan produksinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ternak yang ada.

Pakan
Sebagai makhluk hidup ternak membutuhkan makanan. Bagi ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba, hijauan makanan ternak merupakan sumber makanan utama baik dalam bentuk yang masih segar maupun dalam bentuk yang sudah kering. Rumput merupakan pilihan utama pemenuhan kebutuhan pakan ternak ruminansia oleh peternak. Beberapa lokasi yang umum dimanfaatkan petani peternak dalam mendapatkan rumput baik melalui penggembalaan maupun upaya penyabitan adalah hamparan padang rumput alam, lahan tidur dan hutan, disamping ladang/pekarangan. Rumput alam sebagai komponen penyusun padang rumput alam umumnya merupakan spesies berkayu yang tidak edibel, musim pertumbuhan pendek, produksinya rendah demikian juga dengan kualitasnya. Produksi hijauan yang rendah dan diikuti dengan kualitas yang rendah pula akan berakibat pada rendahnya produktivitas ternak. Ternak yang memiliki potensi genetik berproduksi tinggi tidak bisa memaksimalkan produksinya apabila makanan yang diberikan tidak memadai atau tidak mencukupi baik dalam hal jumlah maupun kualitas. Begitu pula halnya dengan penanganan atau pemeliharaan yang sangat baik, tidak akan ada artinya sama sekali bagi ternak bila tidak ditunjang oleh makanan. Selain hal tersebut rendahnya produksi hijauan dari sisi sosial bisa memunculkan konflik dengan adanya pengambilan hijauan milik orang lain atau ternak masuk kebun orang. Oleh karenanya sebagian peternak mulai berpaling bahwa dalam memelihara ternak perlu memikirkan penyediaan pakannya.

Produksi padang rumput alam di Timor Barat berfluktiasi sepanjang tahun baik dalam hal produksi maupun kualitasnya. Pengukuran pada tahun 1992 produksi rumput alam di daerah Timor pada musim penghujan mencapai 2 ton BK/Ha dan pada musim kemarau menurun menjadi 0,5 ton BK/Ha dengan total produksi dalam satu tahun sebesar 4,4 ton/ha. Sementara itu kandungan protein kasar sebagai indikator kualitas menurun dari 8 persen menjadi kurang dari 4 persen. Sehingga daya dukung padang penggembalaan alam menurun dari 3,1 UT/ha menjadi 0,4 UT/ha. Oleh karenanya pada saat puncak kemarau ternak-ternak di lahan kering berat badanya menurun dan terjadi banyak kasus kematian. Namun demikian sebagian orang juga mampu memanfaatkan situasi ketidakkontinuitas penyediaan pakan ini, yakni dengan memanen rumput sebanyak-banyaknya pada saat melimpah untuk diawetkan. Sebagian yang lain memanfaatkan konsep ”pertumbuhan kompensasi”, yakni dengan membeli sapi-sapi kurus tapi mememuhi syarat sebagai bibit sapi penggemukan untuk selanjutnya dipelihara guna mendapatkan pertumbuhan maksimal dan mendapatkan bobot jual secepatnya. Guna mengatasi ketersediaan pakan, peternak biasanya mulai mengalihkan perhatian untuk memanfaatkan pakan selain rumput alam, seperti tanaman pohon leguminosa, daun-daunan dan limbah pertanian. Dari sisi sosial ekonomi kondisi demikian dapat menciptakan peluang pasar baru penyediaan pakan alternatif.
 
Sumber dan Akses Modal serta Skala Usaha

Modal merupakan faktor yang terpenting dan harus dimiliki oleh peternak untuk mengelola usaha ternaknya disamping faktor-faktor produksi yang lain, seperti lahan, bibit, tenaga kerja, skala usaha, biaya pakan ternak, biaya obat, penyusutan dan faktor sosial ekonomi lainnya. Modal dalam menopang pengembangan ternak di lahan kering biasanya terbatas baik dalam jumlah, sumber maupun akses untuk mendapatkannya. Kondisi demikian mempengaruhi skala usaha yang ada.

Sumber dan akses modal
Petani-petani di negara sedang berkembang termasuk Indonesia, pada umumnya pemilikan modalnya sangat rendah sehingga tingkat pendapatan rendah. Dari sisi ekonomi terdapat kecenderungan bahwa petani yang memiliki uang kontan terbatas sulit untuk memperbesar investasinya. Dalam kondisi demikian dapat dikatakan pemilikan modal usaha sangat kecil sulit untuk mengembangkan usahataninya. Untuk mengembangkan usahanya, maka petani perlu menambah modal (investasi). Penambahan investasi tersebut, petani dengan modal (keuangan) yang terbatas sering tidak mampu untuk memperolehnya digunakan untuk membeli sarana produksi yang dibutuhkan. Secara teoritis dana investasi tersebut berasal dari pendapatan usahatani, tetapi dalam prakteknya pada pertanian rakyat komoditi dan produktivitas terbatas sehingga pendapatan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga hanya memiliki kelebihan uang kontan sedikit untuk diinvestasikan. Oleh karenanya petani yang demikian perlu adanya suntikan dana dari pihak luar baik berupa bantuan, baik yang harus ada kewajiban mengembalikan maupun bersifat hibah. Bantuan keuangan yang memiliki tanggungjawab untuk dikembalikan atau kredit dapat diperoleh dari berbagai sumber baik sumber formal maupun informal.

Kredit pertanian yang berasal dari sumber formal seperti bank, koperasi, kredit umum dan LSM biasanya memiliki keuntungan. Beberapa keuntungan diantaranya adalah memiliki suku bunga yang relatif rendah, dipastikan penggunaan kredit secara produktif, terutama jika disupervisi, dan pembayaran berdasarkan kebutuhan. Selain memiliki keuntungan kredit pertanian yang berasal dari sumber formal juga memiliki kerugian. Adapun beberapa kerugian yang mungkin akan dirasakan petani diantaranya adalah prosedur yang merepotkan, tingkat pengembalian yang lebih rendah karena mentalitas “hadiah” dan membutuhkan jaminan. Oleh karenanya di tingkat masyarakat untuk keamanan anggunannya, pinjaman bank biasanya melalui koperasi atau sepengetahuan kelompok tani dimana petani tersebut menjadi anggotanya. Sebaliknya kredit pertanian yang berasal dari sumber-sumber informal seperti pemilik tanah, teman, pedagang ataupun keluarga seperti halnya sumber formal disamping memiliki keuntungan juga memiliki kerugian. Beberapa keuntungan diantaranya adalah tidak ada prosedur, tersedia pada saat dibutuhkan dan tanpa jaminan. Sedangkan kerugiannya adalah bunga yang tinggi, pemasaran terikat karena kredit dan penyalahgunaan kredit.

Berdasarkan kerugian-kerugian yang mungkin dihadapi petani tersebut di atas, maka guna mendapatkan akses modal terkadang petani dihadapkan pada beberapa kendala untuk memperoleh bantuan modal atau kredit. Faktor yang mempengaruhi akses petani akan kredit diantaranya adalah ketersediaan sumber-sumber kredit di wilayah yang bersangkutan, tepat waktunya pemenuhan kredit, besarnya tingkat bunga tahunan, waktu dan cara pembayaran, serta persyaratan jaminan

Skala usaha
Skala usaha yang optimal merupakan salah satu faktor dalam mencapai keuntungan dalam suatu usaha ternak. Untuk mencapai skala usaha yang optimal sangat tergantung dari sumberdaya yang dimiliki peternak, seperti lahan, tenaga kerja dan modal. Para petani lahan kering biasanya melakukan usahanya dalam skala kecil, dengan ciri-ciri antara lain 1) mengkonsumsi sebagian besar hasil usahataninya dan yang dijual sedikit, (2) input yang dibeli sedikit, (3) tenaga luar keluarga sedikit dan lebih banyak menggunakan tenaga keluarga, (4) mengelola usahataninya secara tradisional sehingga perubahannya lamban, dan (5) beroperasi berdasar keputusan karena kebutuhan mendesak. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa usahatani skala kecil biasanya berhasil dalam menyerap tenaga kerja, tapi dalam tenaga kerja keluarga dan produksinya dipakai untuk keperluan sendiri.

Di NTT diperkirakan jumlah pemilikan ternak sapi sebanyak 1-2 ekor per KK dimiliki oleh 55% dan 3-10 ekor  per KK 32,5%. Suatu survey pada tahun 1991 di 8 desa di daratan Timor menunjukkan bahwa 59% KK memiliki ternak sapi rata-rata sebanyak 2,4 ekor. Keadaan ini tidak berbeda dengan laporan BPS (1995) pemilikan ternak sapi setiap rumah tangga 2-4 ekor. Pemeliharaan dengan skala demikian biasanya efisiensi pemeliharaannya rendah. Pemilikan sedikit biasanya di pelihara disekitar rumah, terkadang mengganggu kebun/pekarangan orang lain. Sebaliknya pemilikan ternak dalam jumlah besar apabila tidak dikelola dengan baik akan menyulitkan pengawasan dan pengendaliannya sehingga penghijauan di ladang tidak terjamin pertumbuhannya.

Sebagai perbandingan untuk sapi perah skala usaha yang optimal merupakan salah satu faktor dalam mencapai keuntungan. Untuk mencapai skala usaha yang optimal, setiap peternak harus memelihara lebih dari enam ekor induk dalam satu tahun. Hal ini tentu saja sangat tergantung dari sumberdaya yang dimiliki peternak, seperti lahan, tenaga kerja dan modal. Kenyataannya usaha peternakan sapi perah saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan rakyat dengan manajemen tradisional dan skala pemilikan yang belum ekonomis, yaitu sekitar 1-4 ekor. Kondisi skala usaha yang belum ekonomis ini antara lain disebabkan oleh terbatasnya modal sehingga usaha budidaya sapi perah belum efisien. Keekonomisan suatu usaha akan tercapai apabila total biaya yang dikeluarkan minimal sama dengan  total produksi yang dihasilkan atau R/C = 1. Semakin tinggi nisbah R/C menunjukkan bahwa suatu usaha akan semakin menguntungkan.

Daftar Bacaan


Badan Pusat Statistik. 2008. Indikator Ekonomi Nusa Tenggara Timur. Badan Pusat Statistik NTT, Kupang

Badan Pusat Statistik. 2008. Indikator Kesejahteraan Rakyat Nusa Tenggara Timur. Badan Pusat Statistik NTT, Kupang

Badan Pusat Statistik. 2009. Nusa Tenggara Timur Dalam Angka.. Badan Pusat Statistik NTT, Kupang

Deno Ratu, M.R., M.M. Kleden dan M.S. Aryanta. 2007. Survei Data Base Potensi Desa Oeletsala Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang Sebagai Desa Binaan UNDANA dan Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakatnya. Laporan Penelitian. Fapet UNDANA, Kupang.

Fithriadi, R. dkk. 1997. Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Di Indonesia : Kumpulan Informasi. Proyek Pengembangan Penyuluhan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan, Jakarta.

KEPAS. 1990. Agro-ekosistem Daerah Kering Di Nusa Tenggara Timur : Studi Kasus Enam Desa Pengembangan Pertanian. Kelompok Penelitian Agro-ekosistem. Balibangtan, Jakarta.

Manuwoto. 1991. Peranan Pertanian Lahan Kering Di Dalam Pembangunan Daerah. Prosiding Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering Yang Berkelanjutan. INRES-Pusat Penelitian Universitas Brawijaya bekerjasama dengan P2LK/BIMAS, Malang.

Nitis, I.M. 2000. Ketahanan Pakan Ternak Di Kawasan Timur Indonesia. Universitas Udayana, Denpasar

Ona, J.D. 1991. Penerapan Teknologi Tepat Guna Usahatani Terpadu Lahan Kering. Prosiding Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering Yang Berkelanjutan. INRES-Pusat Penelitian Universitas Brawijaya bekerjasama dengan P2LK/BIMAS, Malang.

Proyek Pengembangan Penyuluhan Kehutanan. 1997. Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia., Jakarta

Nullik, J dan A. Bamualim. 1998. Pakan Ruminansia Besar Di Nusa Tenggara. BPTP Naibonat Bekerjasama dengan Eastern Islands Veterinary Services Project, Kupang

Priyanti, A., S. Nurtini dan A. Frman. 2009. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah Di Indonesia. Penyunting Santosa, K.A., K. Diwyanto dan T. Toharmat. Puslitbangnak-Balitbangtan, Bogor