ANIMAL HUSBANDRY SCIENCES
This blog is intended for Science Development in the field of Dryland based Animal Husbandry in East Nusa Tenggara
Minggu, 04 November 2018
SUMBER DAYA PETERNAKAN DI LAHAN KERING
Sumberdaya Peternakan di Lahan Kering
Daerah-daerah lahan kering di Indonesia sangat
berbeda dengan daerah-daerah dataran rendahnya. Daerah-daerah tersebut
berbukit-bukit atau bergunung, dengan lereng-lereng yang miring dan tanah
tandus. Walaupun di daerah-daerah tersebut yang paling sering dijumpai adalah
pertanian lahan kering, namun di daerah-daerah yang topografinya mmungkinkan
diterapkannya irigasi dapat pula dijumpai daerah persawahan.
Delapan puluh persen dari total
luas wilayah Indonesia merupakan lahan kering dan porsi ini tidak sebesar
di NTT yang mencapai 90%. Karena
keanekaragaman topografinya dan tanahnya
yang tandus, daerah lahan kering dapat mendukung jumlah penduduk yang lebih
rendah dibandingkan dengan daerah-daerah dataran rendah yang biasanya lebih
subur.
Lahan kering merupakan suatu site yang identik dengan suatu tempat atau
lokasi yang termarginalkan. Dengan demikian beberapa faktor pendukung untuk
mewujudkan suatu usaha termasuk diantaranya usaha peternakan juga mempunyai
sifat yang spesifik. Usaha ternak merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan
dengan kehidupan masyarakat di lahan kering. Kegiatan ini berkembang karena
pada kondisi lahan kering kurang menunjang pengembangan sistem pertanian
(tanaman semusim) secara intensif. Manusia sebagai pelaku utama usaha ternak di
lahan kering biasanya memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah, dengan
kondisi umur yang bervariasi dan tanpa membedakan antara laki-laki dan
perempuan. Sebagai contoh, Di NTT sebagai salah satu lokasi yang didominasi
lahan kering dari keseluruhan penduduk berusia di atas 10 tahun sekitar 68%
hanya berpendidikan paling tinggi tamat SD.
Peternak lahan kering umumnya memelihara ternak sesuai dengan kebiasaannya
dan tujuan yang diharapkan. Jenis-jenis ternak yang dipelihara bisa sapi,
kerbau, kuda, babi, kambing, domba atau golongan unggas. Penentuan jenis ternak
yang dipelihara tergantung dari tujuan pemeliharaan dan pertimbangan sosial
budaya. Pada daerah yang mayoritas penduduknya beragama nasrani
biasanya ternak babi menjadi pilihan utama. Selain itu pertimbangan adat juga
mempengaruhi penduduk dalam menentukan komoditi ternak yang diusahakan. Untuk
masyarakat yang tinggal di Pulau Sumba atau di daerah Toraja pengusahaan ternak
kerbau biasanya menjadi pertimbangan tersendiri. Sebagai masyarakat yang
termarginalkan, pemilikan atau pemeliharaan ternak umumnya juga kurang
memperhatikan mutu ternak dan tingkat produksinya. Berdasarkan beberapa
penelitian, ternak-ternak sapi yang ada di tingkat masyarakat kebanyakan
memiliki ukuran dibawah standard dengan pertumbuhan yang rendah dan tingkat
kematian anak relatif tinggi.
Pemeliharaan
ternak umumnya dilakukan pada berbagai jenis lahan sesuai dengan ketersediaan
yang ada pada lokasi setempat. Pada daerah lahan kering masih banyak lahan yang
sifatnya komunal. Beberapa lahan yang status kepemilikannya jelas biasanya
dikuasai karena faktor keturunan dan luasnya cenderung semakin terbatas.atau
menyempit. Oleh karenanya beberapa lahan yang dijadikan pilihan untuk mendukung
usaha ternak diantaranya adalah padang pangonan, hutan, lahan tadah hujan yang
lagi tidak diusahakan, lahan perkebunan, lahan tegalan/ladang, dan lahan
pekarangan. Lahan-lahan dimaksud dibatasi dengan kondisi berbatu, solum tipis,
mudah erosi dan tingkat kesuburan relatif rendah, ditandai dengan kandungan N
total dalam kategori rendah.
Selain faktor kesuburan, pada wilayah yang didominasi oleh lahan kering pemenuhan kebutuhan air untuk tanaman tergantung
sepenuhnya kepada air hujan dan tidak pernah tergenang air sepanjang tahun dan
berakibat pada terbatasnya produksi yang akan dihasilkan termasuk didalamnya
produksi hijauan makanan ternak. Oleh karenanya penyediaan makanan ternak
berlambung ganda selalu bermasalah pada saat puncak kemarau. Selain hal
tersebut seiring dengan perkembangan penduduk, pemukiman dan usaha tani maka
ketersediaan lahan untuk tanaman makanan ternak
juga menjadi semakin berkurang. Pola distribusi ketersediaan hijauan sepanjang
tahun secara umum adalah melimpah pada saat penghujan dan mengalami defisit
pada saat kemarau. Gambaran tersebut diperoleh dengan menghubungkan antara
kebutuhan ternak dengan produksi hijauan yang dihasilkan. Untuk kondisi di Nusa
Tenggara Timur potensi produksi padang rumput alam pada saat penghujan adalah 2 ton BK/Ha dengan kandungan protein 8%,
sebaliknya pada saat kemarau produksi turun menjadi 0,5 ton BK/Ha dengan
kandungan protein kasar kurang dari 4%.
Sumberdaya peternakan lahan kering berikutnya yang tidak
kalah penting adalah modal. Kendala dari sesi sosiasl ekonomi pada usahatani di daerah
lahan kering meliputi petani subsisten terbatasnya uang tunai, modal yang
dimiliki kecil, tidak ada kepastian harga hasil produksi, terbatasnya sarana
pemasaran. Kendala tersebut memberikan suatu indikasi bahwa petani di daerah
lahan kering berkorelasi positip terhadap rendahnya pendapatan keluarga dan
kemiskinan. Untuk wilayah NTT umumnya pendapatan per kapita per tahun penduduk sebesar Rp. 4.469.637 lebih rendah dari nasional sebesar Rp. 19.520.207. Situasi demikian mendorong tingginya
angka kemiskinan di NTT sebesar 25,69%. Berdasarkan latar belakang tersebut maka
peternak cukup sulit mendapatkan kepercayaan dari pemilik modal. Peternak lahan
kering biasanya mengusahakan ternak selain bermodalkan sendiri walau dalam
jumlah terbatas juga mengharapkan dari sumber lain baik orang per orang,
koperasi, swasta, dinas dan bahkan jasa perbankan bagi yang sudah lebih maju.
Dengan pemodalan yang demikian ini maka berpengaruh pada relatif kecilnya skala
usaha atau pemilikan ternak yang diusahakan.
Keunggulan dan
Kelemahan Sumberdaya Peternakan Di Lahan Kering
Sumberdaya
peternakan lahan kering baik manusia, ternak, lahan maupun pakan selalu
dihubungkan dengan keterbatasan. Namun bila ditelusuri lebih lanjut selain
kekurangan akan tampak pula adanya keunggulan. Baik
kekurangan maupun keunggulan masing-masing memiliki alasan tersendiri.
Manusia
Tenaga
kerja merupakan faktor produksi yang penting dalam proses produksi. Sumber tenaga
kerja pada usaha peternakan di lahan kering biasanya bersumber dari tenaga
kerja keluarga, melibatkan semua anggota keluarga yang ada. Dalam situasi
demikian tidak menutup kemungkinan tenaga kerja yang ada tingkatan umur yang
sangat beragam. Pada kelompok usia tua disatu sisi mereka telah memiliki
pengalaman dalam mengusahakan ternak, namun disisi lain sangat sulit untuk
menerima teknologi baru. Sebaliknya pada usia muda atau bahkan usia anak-anak,
masalah adopsi teknologi bukan merupakan suatu kendala, permasalahan yang
muncul justru rasa memiliki dari kaum muda tidak sebagus pada yang telah
berumur tua. Penduduk yang berusia muda
banyak yang berpindah ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan, meninggalkan
anak-anak dan orang berusia lanjut. Hal ini mengakibatkan kekurangan tenaga
kerja dan berkonsekwensi pada kurangnya perhatian pada ternak menjadi kurang. Sementara
itu permasalahan yang muncul apabila tenaga kerja diperankan oleh anak-anak adalah
tersitanya waktu bermain dan belajar bagi anak-anak.
Tingkat pendidikan peternak yang rendah biasa diikuti
dengan pengetahuan, ketrampilan, motivasi dan kesadaran yang
kurang sehingga masih banyak yang menerapkan sistem tradisional dalam membudidayakan ternak. Dalam kondisi demikian
rendahnya tingkat pendidikan juga menyebabkan peternak sulit untuk mengadopsi
teknologi-teknologi baru dalam kaitan pengembangan usaha ternak. Hal ini disebabkan
pengetahuan mereka dalam mengusahakan ternak lebih banyak karena turun temurun,
selalu memiliki rasa “eman-eman”, menunggu serta tidak berusaha untuk mencoba
hal yang baru. Namun apabila ada suatu kegiatan yang melibatkan orang banyak
seperti gotong royong atau sejenisnya, kelompok masyarakat yang berpendidikan
rendah mudah digerakkan, sebaliknya pada yang berpendidikan lebih tinggi dengan
berbagai alasan sulit mengharapkan keterlibatan mereka.
Yang tidak kala pentingnya dalam pemanfaatan tenaga
keluarga dalam usaha ternak adalah peran serta ibu rumah tangga. Dalam
masyarakat patriarki (menurut garis ayah) seorang laki-lain besar perannya
dalam menentukan setiap langkah termasuk dalam berusaha ternak. Orang laki-laki
bisa menjadi pengambil keputusan secara resmi, tetapi kenyataannya bisa juga
perempuan yang menentukan apa yang akan dikerjakan. Bahkan beban para ibu dalam
mencurahkan waktunya untuk memelihara ternak jauh lebih tinggi dibanding para
bapak. Terkadang malah hal-hal yang berkaitan dengan spesifik lokal atau
tanaman-tanaman yang adaptif para ibu lebih tahu dibanding kaum laki-laki. Disini
nampak bahwa adanya pengakuan terhadap persamaan hak. Peran serta ibu yang
terlalu tinggi di sisi lain dapat berpengaruh pada kesehatan ibu dan beresiko
pada perkembangan anak apabila dalam rumah tangga tani tersebut terdapat anak
balita.
Ternak
Petani yang rasional akan selalu berusaha memanfaatkan sumber
daya yang ada pada dirinya guna memaksimumkan pendapatan usahatani/ternaknya. Pengembangan
usahatani lahan kering dapat ditanggulangi dengan pola kombinasi antara tanaman
pangan dengan ternak. Peran ternak dapat melayani fungsi sebagai tambahan
pendapatan, tabungan, kegemaran, membantu pembiayaan usahatani dan upacara adat. Dalam
kondisi demikian, pemeliharaan ternak menjadi tidak fokus, dan dalam satu rumah
tangga peternak dapat ditemukan berbagai jenis ternak peliharaan. Di NTT ternak
babi merupakan ternak yang paling besar jumlahnya diantara semua ternak yang ada. Babi
diusahakan hampir merata di semua daerah dan biasanya merupakan ternak rumah
tangga bersama ayam kampung. Pemeliharaan ternak umumnya dilakukan secara
sederhana dalam kandang atau dilepas. Lebih dari 50% ternak babi ada di Timor
(Kupang), Sumba Barat dan Belu. Selain kedua komoditi ternak tersebut, penduduk
NTT juga biasa mengusahakan ternak kuda, kambing, domba dan kerbau serta
jenis-jenis unggas lainnya. Pemilikan
ayam biasanya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan mendadak dan cepat agar
didapat pendapatan tunai. Posisi ini terkadang diambil alih kelompok ternak
kecil lainnya seperti babi dan kambing.
Berbagai jenis ternak yang hidup pada daerah lahan kering kebanyakan berukuran
kecil-kecil dengan tingkat produktivitas yang rendah. Dari sisi pemenuhan
kebutuhan pakan, ternak berukuran kecil lebih sedikit membutuhkan pakan
dibanding ternak yang lebih besar, sehingga pemeliharaan bisa dilakukan
seadanya. Tidak hanya itu, sapi Bali walaupun berukuran kecil ternyata memiliki
tingkat kesuburan yang tinggi dibanding jenis sapi lain. Dari sisi adaptasi,
ternak yang berukuran kecil lebih memiliki toleransi terhadap panas lebih baik
dibanding yang berukuran besar. Hal ini karena semakin kecil ukuran tubuh maka
akan memiliki luas permukaan persatuan berat tubuh lebih besar
dibanding dengan yang berukuran besar. Ternak yang berukuran kecil dapat
kehilangan panas tubuh persatuan berat badan lebih cepat dibanding dengan ternak
berukuran besar. Ternak-ternak yang sudah
beradaptasi di daerah lahan kering telah beradaptasi pakan dengan kualitas dan
jumlah rendah, suatu sifat yang tercermin dalam tingkat metabolisme yang secara
umum lebih rendah daripada sifat-sifat ternak dengan potensi genetik tinggi.
Ternak-ternak yang telah beradaptasi di daerah kering juga mampu menggunakan
air secara efisien.
Namun sebaliknya dalam hal produksi, dengan ukuran ternak yang relatif
kecil maka tidak efisien dalam menghasilkan produk, butuh waktu lama untuk
mencapai bobot jual. Pada sapi Bali, walaupun tingkat kesuburannya tinggi,
angka kematian anak ternyata juga cukup tinggi sehingga populasi juga sulit
berkembang,
Lahan
Lahan dalam usaha ternak berfungsi sebagai tempat
penyediaan pakan dan fasilitas kandang.usaha. Lahan pada daerah lahan kering
didominasi lahan kritis, berkapur, berbatu dan solum tipis. Selain itu terkadang
juga berada di daerah miring, peka erosi dan tidak subur. Sebagai tempat penyediaan
pakan, lahan yang biasa dimanfaatkan sebagai sumber pakan adalah padang pangonan, hutan, lahan tadah hujan yang lagi tidak diusahakan, lahan
perkebunan, lahan tegalan/ladang, dan lahan pekarangan sehingga banyak
alternatif pilihan guna pemenuhan kebutuhan pakan. Namun bila ditelaah lebih
mendalam, pemanfaatan lahan sebagai sumber pakan semuanya bergantung pada
kemurahan alam tanpa ada campur tangan manusia untuk mengusahakannya.
Pemeliharaan semacam ini memiliki kelemahan baik bagi lingkungan seperti
degradasi lahan, maupun bagi pemilik ternak, seperti ketergantungan pakan pada
musim, rendahnya kualitas pakan, terjadi penurunan berat badan pada musim
kemarau, serta rendahnya kesehatan ternak dan produktivitas ternak.
Tanah ditempat miring, peka erosi, berkapur,
berbatu dan solum tipis biasanya tidak subur dan berada dalam kategori klas IV
s/d VIII. Tanah-tanah pada kelas demikian merupakan lahan yang tidak sesuai
untuk pertanian atau diperlukan biaya yang sangat besar untuk pengelolaannya.
Dengan demikian kelas lahan ini lebih sesuai digunakan sebagai sumber
penyedia pakan ternak.
Status lahan di daerah lahan kering, seperti yang telah diungkapkan pada
bahasan terdahulu bahwa pada daerah lahan kering masih banyak lahan yang
sifatnya komunal. Beberapa lahan yang status kepemilikannya jelas biasanya sejarah
penguasaannya karena faktor keturunan dan luasnya cenderung semakin terbatas atau
menyempit. Lahan komunal yang ada biasanya dalam bentuk areal padang, hutan maupun lahan
tidur. Oleh karenanya pemanfaatan padang tergantung
pada siapa saja yang mempunyai ternak dan berapapun jumlahnya tanpa adanya kontribusi
apapun pada padang yang ada. Kondisi demikian dapat merupakan sebagai salah
satu faktor pendukung tingginya invasi gulma padang. Sebaliknya lahan yang
kepemilikannya jelas memungkinkan untuk diusahakan suatu kebun pakan dan
produksinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ternak yang ada.
Pakan
Sebagai makhluk hidup ternak
membutuhkan makanan. Bagi ternak
ruminansia seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba, hijauan makanan
ternak merupakan sumber makanan utama baik dalam bentuk yang masih segar maupun dalam bentuk yang sudah kering. Rumput merupakan pilihan utama pemenuhan kebutuhan pakan ternak ruminansia
oleh peternak. Beberapa lokasi yang umum dimanfaatkan petani peternak dalam
mendapatkan rumput baik melalui penggembalaan maupun upaya penyabitan adalah
hamparan padang rumput alam, lahan tidur dan hutan, disamping ladang/pekarangan.
Rumput alam sebagai komponen penyusun padang
rumput alam umumnya merupakan spesies berkayu yang tidak edibel, musim
pertumbuhan pendek, produksinya rendah demikian juga dengan kualitasnya.
Produksi hijauan yang rendah dan diikuti dengan kualitas yang rendah pula akan
berakibat pada rendahnya produktivitas ternak. Ternak
yang memiliki potensi genetik berproduksi tinggi tidak bisa memaksimalkan
produksinya apabila makanan yang diberikan tidak memadai atau tidak mencukupi
baik dalam hal jumlah maupun kualitas. Begitu pula halnya dengan penanganan
atau pemeliharaan yang sangat baik, tidak akan ada artinya sama sekali bagi
ternak bila tidak ditunjang oleh makanan. Selain hal tersebut rendahnya produksi hijauan dari sisi sosial bisa memunculkan
konflik dengan adanya pengambilan hijauan milik orang lain atau ternak masuk
kebun orang. Oleh karenanya sebagian peternak mulai berpaling bahwa
dalam memelihara ternak perlu memikirkan penyediaan pakannya.
Produksi padang rumput alam di Timor Barat
berfluktiasi sepanjang tahun baik dalam hal produksi maupun kualitasnya. Pengukuran pada tahun 1992 produksi rumput
alam di daerah Timor pada musim penghujan mencapai 2 ton BK/Ha dan pada musim
kemarau menurun menjadi 0,5 ton BK/Ha dengan total produksi dalam satu tahun
sebesar 4,4 ton/ha. Sementara itu kandungan protein kasar sebagai indikator
kualitas menurun dari 8 persen menjadi kurang dari 4 persen. Sehingga daya dukung padang penggembalaan
alam menurun dari 3,1 UT/ha menjadi 0,4 UT/ha. Oleh karenanya pada saat puncak
kemarau ternak-ternak di lahan kering berat badanya menurun dan terjadi banyak
kasus kematian. Namun demikian sebagian orang juga mampu memanfaatkan situasi
ketidakkontinuitas penyediaan pakan ini, yakni dengan memanen rumput
sebanyak-banyaknya pada saat melimpah untuk diawetkan. Sebagian yang lain
memanfaatkan konsep ”pertumbuhan kompensasi”, yakni dengan membeli sapi-sapi
kurus tapi mememuhi syarat sebagai bibit sapi penggemukan untuk selanjutnya
dipelihara guna mendapatkan pertumbuhan maksimal dan mendapatkan bobot jual
secepatnya. Guna mengatasi
ketersediaan pakan, peternak biasanya mulai mengalihkan perhatian untuk memanfaatkan
pakan selain rumput alam, seperti tanaman pohon leguminosa, daun-daunan dan
limbah pertanian. Dari sisi sosial ekonomi kondisi demikian dapat menciptakan
peluang pasar baru penyediaan pakan alternatif.
Sumber dan Akses Modal
serta Skala Usaha
Modal merupakan faktor yang terpenting dan harus dimiliki
oleh peternak untuk mengelola usaha ternaknya disamping faktor-faktor produksi
yang lain, seperti lahan, bibit, tenaga kerja, skala usaha, biaya pakan ternak,
biaya obat, penyusutan dan faktor sosial ekonomi lainnya. Modal
dalam menopang pengembangan ternak di lahan kering biasanya terbatas baik dalam
jumlah, sumber maupun akses untuk mendapatkannya. Kondisi demikian mempengaruhi
skala usaha yang ada.
Sumber dan akses
modal
Petani-petani di negara sedang berkembang termasuk Indonesia,
pada umumnya pemilikan modalnya sangat rendah sehingga tingkat pendapatan
rendah. Dari sisi ekonomi terdapat kecenderungan bahwa petani yang memiliki
uang kontan terbatas sulit untuk memperbesar investasinya. Dalam kondisi
demikian dapat dikatakan pemilikan modal usaha sangat kecil sulit untuk
mengembangkan usahataninya. Untuk mengembangkan usahanya,
maka petani perlu menambah modal (investasi). Penambahan investasi tersebut,
petani dengan modal (keuangan) yang terbatas sering tidak mampu untuk
memperolehnya digunakan untuk membeli sarana produksi yang dibutuhkan. Secara
teoritis dana investasi tersebut berasal dari pendapatan usahatani, tetapi
dalam prakteknya pada pertanian rakyat komoditi
dan produktivitas terbatas sehingga pendapatan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari sehingga hanya memiliki kelebihan uang kontan sedikit untuk
diinvestasikan. Oleh karenanya petani yang demikian perlu adanya suntikan dana
dari pihak luar baik berupa bantuan, baik yang harus ada kewajiban
mengembalikan maupun bersifat hibah. Bantuan
keuangan yang memiliki tanggungjawab untuk dikembalikan atau kredit dapat diperoleh
dari berbagai sumber baik sumber formal maupun informal.
Kredit pertanian yang berasal dari sumber formal seperti
bank, koperasi, kredit umum dan LSM biasanya memiliki keuntungan. Beberapa
keuntungan diantaranya adalah memiliki suku bunga yang relatif rendah, dipastikan
penggunaan kredit secara produktif, terutama jika disupervisi, dan pembayaran
berdasarkan kebutuhan. Selain memiliki keuntungan kredit pertanian yang berasal
dari sumber formal juga memiliki kerugian. Adapun beberapa kerugian yang
mungkin akan dirasakan petani diantaranya adalah prosedur yang merepotkan, tingkat
pengembalian yang lebih rendah karena mentalitas “hadiah” dan membutuhkan
jaminan. Oleh karenanya di tingkat masyarakat untuk keamanan anggunannya,
pinjaman bank biasanya melalui koperasi atau sepengetahuan kelompok tani dimana
petani tersebut menjadi anggotanya. Sebaliknya kredit pertanian yang berasal
dari sumber-sumber informal seperti pemilik tanah, teman, pedagang ataupun
keluarga seperti halnya sumber formal disamping memiliki keuntungan juga
memiliki kerugian. Beberapa keuntungan diantaranya adalah tidak ada prosedur,
tersedia pada saat dibutuhkan dan tanpa jaminan. Sedangkan kerugiannya adalah
bunga yang tinggi, pemasaran terikat karena kredit dan penyalahgunaan kredit.
Berdasarkan kerugian-kerugian yang mungkin dihadapi petani
tersebut di atas, maka guna mendapatkan akses modal terkadang petani dihadapkan
pada beberapa kendala untuk memperoleh bantuan modal atau kredit. Faktor yang
mempengaruhi akses petani akan kredit diantaranya adalah ketersediaan
sumber-sumber kredit di wilayah yang bersangkutan, tepat waktunya pemenuhan
kredit, besarnya tingkat bunga tahunan, waktu dan cara pembayaran, serta persyaratan
jaminan
Skala usaha
Skala usaha yang optimal merupakan salah satu faktor dalam
mencapai keuntungan dalam suatu usaha ternak. Untuk mencapai skala usaha yang
optimal sangat tergantung dari sumberdaya yang dimiliki peternak, seperti
lahan, tenaga kerja dan modal. Para petani lahan kering biasanya melakukan
usahanya dalam skala kecil, dengan ciri-ciri antara lain 1) mengkonsumsi
sebagian besar hasil usahataninya dan yang dijual sedikit, (2) input yang
dibeli sedikit, (3) tenaga luar keluarga sedikit dan lebih banyak menggunakan
tenaga keluarga, (4) mengelola usahataninya secara tradisional sehingga
perubahannya lamban, dan (5) beroperasi berdasar keputusan karena kebutuhan
mendesak. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa usahatani skala kecil
biasanya berhasil dalam menyerap tenaga kerja, tapi dalam tenaga kerja keluarga
dan produksinya dipakai untuk keperluan sendiri.
Di NTT diperkirakan jumlah pemilikan ternak sapi sebanyak 1-2
ekor per KK dimiliki oleh 55% dan 3-10 ekor
per KK 32,5%. Suatu survey pada tahun 1991 di 8 desa di daratan Timor
menunjukkan bahwa 59% KK memiliki ternak sapi rata-rata sebanyak 2,4 ekor.
Keadaan ini tidak berbeda dengan laporan BPS (1995) pemilikan ternak sapi
setiap rumah tangga 2-4 ekor. Pemeliharaan dengan skala demikian biasanya
efisiensi pemeliharaannya rendah. Pemilikan sedikit biasanya di pelihara
disekitar rumah, terkadang mengganggu kebun/pekarangan orang lain. Sebaliknya
pemilikan ternak dalam jumlah besar apabila tidak dikelola dengan baik akan
menyulitkan pengawasan dan pengendaliannya sehingga penghijauan di ladang tidak
terjamin pertumbuhannya.
Sebagai perbandingan untuk sapi perah skala usaha yang
optimal merupakan salah satu faktor dalam mencapai keuntungan. Untuk mencapai
skala usaha yang optimal, setiap peternak harus memelihara lebih dari enam ekor
induk dalam satu tahun. Hal ini tentu saja sangat tergantung dari sumberdaya
yang dimiliki peternak, seperti lahan, tenaga kerja dan modal. Kenyataannya usaha
peternakan sapi perah saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan rakyat
dengan manajemen tradisional dan skala pemilikan yang belum ekonomis, yaitu
sekitar 1-4 ekor. Kondisi skala usaha yang belum ekonomis ini antara lain
disebabkan oleh terbatasnya modal sehingga usaha budidaya sapi perah belum
efisien. Keekonomisan suatu usaha akan tercapai apabila total biaya yang
dikeluarkan minimal sama dengan total
produksi yang dihasilkan atau R/C = 1. Semakin tinggi nisbah R/C menunjukkan bahwa
suatu usaha akan semakin menguntungkan.
Daftar Bacaan
Badan
Pusat Statistik. 2008. Indikator Ekonomi Nusa Tenggara Timur. Badan Pusat
Statistik NTT, Kupang
Badan
Pusat Statistik. 2008. Indikator Kesejahteraan Rakyat Nusa Tenggara Timur.
Badan Pusat Statistik NTT, Kupang
Badan
Pusat Statistik. 2009. Nusa Tenggara Timur Dalam Angka.. Badan Pusat Statistik
NTT, Kupang
Deno
Ratu, M.R., M.M. Kleden dan M.S. Aryanta. 2007. Survei Data Base Potensi Desa
Oeletsala Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang Sebagai Desa Binaan UNDANA dan
Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakatnya. Laporan Penelitian. Fapet UNDANA,
Kupang.
Fithriadi,
R. dkk. 1997. Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Di Indonesia : Kumpulan
Informasi. Proyek Pengembangan Penyuluhan Kehutanan. Pusat Penyuluhan
Kehutanan, Jakarta.
KEPAS.
1990. Agro-ekosistem Daerah Kering Di Nusa Tenggara Timur : Studi Kasus Enam
Desa Pengembangan Pertanian. Kelompok Penelitian Agro-ekosistem. Balibangtan,
Jakarta.
Manuwoto.
1991. Peranan Pertanian Lahan Kering Di Dalam Pembangunan Daerah. Prosiding
Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering
Yang Berkelanjutan. INRES-Pusat Penelitian Universitas Brawijaya bekerjasama
dengan P2LK/BIMAS, Malang.
Nitis, I.M. 2000. Ketahanan Pakan Ternak Di
Kawasan Timur Indonesia. Universitas
Udayana, Denpasar
Ona,
J.D. 1991. Penerapan Teknologi Tepat Guna Usahatani Terpadu Lahan Kering.
Prosiding Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan
Kering Yang Berkelanjutan. INRES-Pusat Penelitian Universitas Brawijaya
bekerjasama dengan P2LK/BIMAS, Malang.
Proyek Pengembangan Penyuluhan Kehutanan. 1997. Pengelolaan Sumberdaya
Lahan Kering di Indonesia., Jakarta
Nullik, J dan
A. Bamualim. 1998. Pakan Ruminansia Besar Di Nusa Tenggara. BPTP Naibonat
Bekerjasama dengan Eastern Islands Veterinary Services Project, Kupang
Priyanti, A.,
S. Nurtini dan A. Frman. 2009. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah Di Indonesia.
Penyunting Santosa, K.A., K. Diwyanto dan T. Toharmat.
Puslitbangnak-Balitbangtan, Bogor
Selasa, 15 Juli 2014
SISTEM TIGA STRATA (STS)
Sistem tiga
strata merupakan suatu cara penanaman dan pemangkasan rumput, legumenosa, semak
dan pohon, sehingga hijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun. Pada waktu
musim hujan sebagian besar sumber pakan ternak adalah berasal dari rumput dan legumenosa (sebagai stratum satu).
Sedangkan pada musim kering sebagian besar hijauan makanan ternak berasal dari
semak-semak (sebagai stratum dua) dan pada akhir musim kering, sebagian besar
hijauan makanan ternak berasal dari pohon-pohon (sebagai stratum tiga). Sistem
tiga strata ini pertama kali dikembangkan di Bali oleh Prof. Dr. I Made Nitis .
Satu unit STS, hanya memerlukan luas
lahan 2.500 meter persegi, yang terdiri dari 3 bagian: bagian inti seluas 1.600
meter persegi, bagian
selimut 900 meter persegi, dan bagian
paling pinggir mempunyai keliling 200 meter.
Bagian inti adalah lahan yang
terletak di tengah-tengah unit. Lahan ini tetap ditanami tanaman pangan seperti
jagung, kedele, ketela pohon dsb.
Bagian
selimut adalah lahan yang berada diantara bagian inti dan bagian pinggir. Pada
Bagian selimut ini ditanami rumput seperti king grass, cipelang dan panikum,
serta legumenosa seperti lamtoro, turi dan gamal.
Bagian pinggir adalah bagian paling
luar yang sekaligus menjadi batas keliling dari satu unit STS. Pohon angsana, mahoni dan kabesak ditanam pada jarak 5 meter di
sekeliling unit tersebut. Di antara 2 pohon tersebut ditanami 50 gamal, dan
diantara 2 pohon berikutnya ditanami lamtoro atau akasia vilosa dengan
jarak tanam 10 centimeter.
Ketiga
stratum (lapis) yang ada dalam unit STS, masing-masing punya peran atau fungsi
tertentu yakni Stratum II & III berfungsi sebagai pagar hidup, penahan angin dan dapat menahan laju aliran
air hujan sehingga kesuburan tanah dapat dipertahankan. Stratum satu berperan sebagai lahan penyedia makanan bagi ternak, sehingga
menghalangi ternak merusak tanaman pangan kalau pagar (stratum dua) ditembus
oleh ternak.
Manfaat Sistem Tiga Strata adalah Meningkatkan persediaan dan
mutu hijauan makanan ternak, Menyediakan hijauan sepanjang tahun, Mempercepat pertumbuhan dan
reproduksi ternak, Meningkatkan daya tampung, Meningkatkan kesuburan
tanah, Mengurangi
erosi, Menyediakan
kayu api dan kayu keras
dan Menyediakan bibit untuk perluasan STS serta Menambah
kehijauan dan keindahan lingkungan.
Langganan:
Postingan (Atom)